Pertama membaca buku ini saya masih ingat, saat itu usia saya baru delapan belas tahun, usia yang masih sangat muda dan memiliki sejuta mimpi juga kesempatan, membaca buku ini mengingatkan saya, bahwa di satu periode yang lampau, usia saya merupakan usia produktif untuk seorang gadis,melepaskan kesengsaraan dan juga garis kemiskinan dalam sebuah pilihan hidup yang membuatnya mampu bertahan namun juga menerima konsekuensi untuk hidup dalam bayangan, menjadi seorang Nyai.
Kemudian, enam tahun berlalu dan saya tergerak kembali untuk membaca ulang buku ini, sebuah buku yang menceritakan realita mengenai kehidupan seorang Nyai. Sebuah buku yang ditulis oleh seseorang yang ingin mencari asal usul dari sebagian darah yang mengalir di dalam tubuhnya, darah seorang Moeinah,seorang Nyai. Menjadi Nyai adalah terikat pada hubungan yang berdiri dengan landasan transaksi ketimbang sebuah perasaan menjadi garis utama penceritaan buku ini, bahwa menjadi Nyai adalah sebuah profesi,bukanlah panggilan hidup seorang perempuan.






