MENJEMPUT
ASA DI PATUHA
Oleh
M. A. Iskandar
Pendidik
dan Ketua Pelaksana Program CSW-LST 2019 di SMA Mutiara Bunda
Hari menjelang sore ketika kami
menyelusuri jalan ini kembali. Namun kali ini pemandangan yang terlihat sungguh
indah luar biasa. Rangkaian perkebunan teh bagai hamparan permadani raksasa.
Tertata rapi, berpola dan bergelombang menyesuaikan dengan kontur permukaan
bumi yang menanjak atau menurun. Lembayung senja berwarna kemerahan perlahan
beringsut tenggelam di ufuk barat. Itu pertanda siang kan segera berganti
malam. Siang tadi, saat pertama kali menyusur jalan yang sama kami hanya
mendapati kabut tebal sepanjang jalan sehingga tak nampak apa yang ada di
sekeliling kami.
Ada enam murid sekolah yang mebersamai perjalanan
pulang kami. Semuanya perempuan. Lima orang murid SMP dan satu orang murid SD
kelas enam. Tak ada transportasi umum melintasi jalan ini. Maka untuk bisa
sampai di tempat yang dituju, bagi yang tak memiliki kendaraan pribadi, hanya
mengandalkan kedua kaki. Perjalanan yang ditempuh dengan cara itu memerlukan
waktu sekira empat puluh lima menit. Jadi perkiraan jarak antara kedua tempat
yaitu sekira dua setengah sampai tiga kilo meter.
Jarak itu adalah jarak antara sebuah perkampungan
bernama Sintok sampai ke Patuha. Patuha adalah sebuah wilayah perkebunan teh
yang cukup luas higga ribuan hektar di wilayah Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.
Perebunan teh ini dikelola oleh salah satu perusahaan swasta. Patuha adalah
pusat dari seluruh kegiatan, sarana-prasarana, dan segala kebutuhan dari
perkebunan teh ini termasuk sekolah untuk SD dan SMP.
Murid-murid yang bersama kami adalah murid dari SD dan
SMP Negeri Patuha. Mereka baru saja meneyelesaikan tugas belajarnya dan
sekarang waktunya pulang ke rumah. Kami pun sempat berbincang dengan mereka
dalam beberapa kali kesempatan. Perbincangan kami seputar sekolah dan cita-cita
mereka kelak ketika lulus dai sekolah. Menurut mereka, Desa Sintok termasuk
desa yang terdekat dengan SD atau SMP Negeri Patuha. Desa-desa lainnya bahkan
lebih jauh dari Sintok dengan waktu tempuh dua hingga duasetengah jam.
Mungkin perlu diketahui, Patuha adalah salah satu
wilayah perkebunan teh yang luasnya hingga ribuan hektar. Sebagian pengelolaan
perkebunan dikelola PTPN VIII dan sebagiannya lagi oleh pihak swasta. Wilayah
perkebunan yang dikelola swasta ini terbagi ke dalam dua belas sub.
Masing-masing sub mewakili satu kampung yang luasnya 10 sampai 15 hektar. Satu
kampung terdiri dari 40 kepala keluarga. Di sub-sub wilayah itu mereka
menempati rumah dinas sederhana berbahan kayu dan bilik sebagai tempat tinggal
sementara.
Di Patuha sendiri terdiri dari tiga sub yaitu Sub
Cicacing Tonggoh (baca: atas) Cicacing Tengah, dan lupa lagi (he…he…). Di
sinilah pusat seluruh kegiatan perkebunan dilakukan. Fasilitasnya pun lengkap
mulai dari sekolah (PAUD/TK, SD, dan SMP), rumah sakit/klinik, kantor, rumah
ibadah, hingga pabrik pengolahan teh. Sembilan sub lainnya tersebar di berbagai
tempat dengan jarak tiga sampai sepuluh kilo meter dari Patuha. Dengan jarak
yang demikian jauh maka wajar apabila jumlah murid di SD dan SMP Negeri Patuha
tidak sebanding dengan jumlah anak usia sekolah yang ada di seluruh perkebunan.
Tidak hanya itu, hambatan mereka bersekolah cukup beragam. Sebutlah keterbatasan
ekonomi, ketiadaan transportasi umum, dan kondisi alam yang berat membuat pergi
ke sekolah menjadi masalah yang pelik.
Karena kami bergerak di bidang pendidikan maka
bukanlah sebuah kebetulan kami bisa sedikit tahu tentang sekelumit masalah
pendidikan bagi masyarakat pemetik perkebunan teh. Pendidikan yang
diselenggarakan bagi masyarakat pemetik perkebunan teh (khususnya pendidikan
dasar 9 tahun) oleh pemerintah sebenarnya tak berbiaya tinggi bahkan gratis. Akan
tetapi, seperti yang telah disinggung di atas, penyelenggaraan pendidikan
terkendala oleh masalah jarak yang cukup jauh, ketiadaan transportasi, dan kondisi
alam yang berat. Karena hal-hal itulah para orang tua dan anak-anak mereka
bersepakat untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.
Mereka mencukupkan ketuntasan belajar hanya sampai SMP. Hal lain yang mendukung
kesepakatan ini adalah tersedianya lapangan kerja bagi mereka di perkebunan
teh.
Kami sempat bertanya kepada murid-murid sekolah dasar tentang cita-cita dan keinginan mereka di masa depan. Pada masa sekolah dasar mereka masih bercita-cita untuk menjadi seorang dokter, guru, tentara, pemain sepak bola, polisi, atau profesi lainnya. Namun menginjak usia SMP cita-cita itu berubah karena seolah-olah sulit untuk diwujudkan. Pemikiran mereka terbatasi ruang lingkup lingkungan sosial ketiadaan contoh dan kondisi alam yang sulit ditaklukkan. Di antara mereka sebenarnya ada pula yang mampu mengatasi keterbatasan itu. Bahkan diantaranya berhasil menggapai cita-cita yang mereka harapkan.
Ada secercah harapan bahwa anak-anak itu akan kembali
bergairah untuk melanjutkan pendidikan saat pihak perkebunan mulai memerhatikan
sarana dan prasarana transportasi. Perbaikan jalan di beberapa titik strategis
dan pengadaan angkutan yang lebih banyak menjadi titik terang bagi anak-anak
dan para orang tua untuk tak lagi menjadikan hal ini sebagai alasan memendam
cita-cita dan harapan mereka. Jadi keterbatasan dan tantangan yang ada bukanlah
halangan untuk mereka menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan bermanfaat daripada
sekedar menjadi seorang pekerja.
Kita pun bisa membantu mereka. Program guru bantu,
kelas jauh, atau apapun bentuknya sebagai kepedulian kita terhadap pendidikan
maka itu bisa juga menjadi solusi. Mari kita sama-sama peduli. Wujudkan asa
mereka, wujudkan harapan mereka, wujudkan cita-cita mereka untuk masa depan
bangsa yang lebih baik.














