Oleh Moh. A. Iskandar
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah
Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di
antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya.” (Q.S. An-Nisa/4: 59).
MAKNA TAAT
Taat berasal dari kata tha'a, yatuu'u-yathaa'u, thau'an yang
artinya tunduk, patuh. Allah Swt menciptakan alam semesta dan seluruh isinya,
termasuk jin dan manusia, untuk tunduk, patuh dan taat kepada-Nya. Banyak
ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang hal ini, diantaranya Q. S. Ali-Imran:
83, Allah Swt berfirman: “Maka mengapa
mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada di
langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun
terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”. Ayat lain, dalam Q.
S. Al-Baqarah: 116, Allah Swt berfirman: “Dan
mereka berkata, “Allah mempunyai anak”. Mahasuci Allah, bahkan milik-Nyalah apa
yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya”. Masih banyak
ayat-ayat lain yang menyatakan tentang ketundukan dan ketaatan alam semesta ini
kepada setiap perintah Allah. Seluruh ayat-ayat itu menunjukkan tentang
wajibnya taat terhadap perintah Allah baik dengan sukarela maupun terpaksa.
Dalam ayat-ayat tersebut juga berbicara tentang peringatan kepada manusia yang
mempertanyakan mengapa manusia tidak mau tunduk kepada Allah padahal seluruh
alam semesta ini tunduk dan patuh kepada-Nya.
Setiap perintah ataupun larangan Allah kepada manusia pasti mengandung
hikmah dan kebaikan. Sedangkan pengingkaran terhadap perintah dan larangan-Nya,
dapat berakibat kerusakan tidak hanya terhadap pelakunya sendiri akan tetapi bagi
orang lain dan alam sekitarnya. Dalam Q. S. Ar-Rum: 41, Allah Swt berfirman: “Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ Sehubungan dengan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan firman Allah Swt.: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia” yaitu dengan berkurangnya hasil
tanam-tanaman dan buah-buahan karena banyak perbuatan maksiat yang dikerjakan
oleh para penghuninya. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat
durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi,
karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan
(Tafsir Ibnu Katsir).
Karena itu setiap manusia wajib
untuk taat, tunduk, dan patuh kepada perintah maupun larangan Allah Swt. agar
terhindar dari kerusakan yang akan menimpa manusia itu sendiri. Sebaliknya
ketika manusia benar-benar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya dengan sungguh-sungguh disertai keikhlasan maka Allah akan
memberikan ganjaran yang berlipat. Kesungguhan untuk taat, tunduk, dan patuh
kepada perintah Allah bisa disebut takwa artinya menjalankan semua perintah
Allah dan menjauhi larangannya. Balasan bagi orang yang beriman dan bertakwa
kepada Allah adalah melimpahnya keberkahan dari langit dan bumi (Q. S.
Al-A’raf: 96).
BENTUK KETAATAN
Ketaatan
terbagi dalam dua bentuk yaitu, pertama,
ketaatan kepada Allah yaitu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi
larangannya. Kedua, ketaatan kepada manusia.
Ketaatan kepada Allah adalah ketaatan yang mutlak dan wajib tak bisa ditawar
lagi. Ketaatan kepada Allah ini kemudian disandingkan dengan ketaatan kepada
Rasul (Muhammad Saw) dengan penegasan kata athiiullaha wa athiiu rasul sebagaimana telah disebutkan
dalam Q. S. Annisa di atas. Taat kepada Rasulullah adalah dengan mengikuti
semua perintah, larangan, dan apa-apa yang dibenarkan olehnya. Dengan ittiba
(mengikuti) kepada Rasulullah berarti kita taat kepada Allah sebagaimana firman
Allah dalam Q. S. Ali Imran: 31, “Katakanlah: jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni
dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Manusia membutuhkan contoh nyata
sebagai panduan dalam rangka menjalankan ketaatannya kepada Allah Swt. Karena
itu, Allah menjadikan Rasulullah sebagai seseorang yang harus diikuti secara
mutlak. Sedangkan ketaatan kepada manusia selain Rasulullah adalah bentuk
ketaatan atas perintah Allah dan Rasulnya. Maka dari itu, ketaatan kepada
manusia tidak mutlak. Ketaatan kepada manusia tidak boleh menyelisihi ketaatan
kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, ketaatan kepada manusia hanyalah
ketaatan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya bukan atas apa
yang menyelisihinya.
TAAT KEPADA
PEMIMPIN
Taatnya
manusia kepada pemimpin adalah sebuah keharusan. Al-Qurthubi dalam tafsirnya
mengatakan: “Di dalam ayat ini (Q. S. An-Nisa: 59. red) Allah memerintahkan
untuk taat kepada-Nya, kemudian kepada Rasul-Nya, kemudian kepada para Umara,
menurut perkataan jumhur, Abu Hurairah, ibnu Abbas, dll.” Sedangkan Ibnu
Khuwaidzi menjelaskan: “Adapun taat kepada sultan maka wajib dalam rangka
taat kepada Allah dan tidak wajib dalam perkara maksiat kepada Allah…”
(Al-Jami’ lil Ahkamil Qur`an 5/167, 168). Ulama lain yaitu Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di mengatakan:
“(Dalam ayat ini) Allah memerintahkan (kaum mukminin) untuk taat kepada-Nya
dan taat kepada Rasul-Nya yaitu dengan mengerjakan perintah keduanya baik yang
wajib maupun yang sunnah dengan menjauhi larangan keduanya. Dan Allah juga
memerintahkan (kepada kaum mukminin) untuk taat kepada Ulil Amri, yaitu orang
yang mengurusi kepentingan umat, baik itu Umara, pemerintah maupun mufti-mufti
karena sesungguhnya tidak akan konsisten urusan Dien dan dunia kecuali dengan
taat kepada mereka dan tunduk kepada perintah-perintah mereka dalam rangka taat
kepada Allah dan mengharap pahala yang ada di sisi-Nya. Akan tetapi dengan
syarat mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Apabila mereka
memerintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak ada taat kepada makhluk dalam
bermaksiat kepada Allah.”
Berdasarkan pendapat para ulama di
atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa taat kepada pemimpin adalah suatu
kewajiban. Akan tetapi ketaatan terhadap pemimpin tidaklah mutlak. Ketaatan
kepada pemimpin karena merekalah yang telah mengurusi segala kepentingan umat.
Ketaatan kepada pemimpin juga dibatasi atau didasarkan kepada ketaatan kepada
Allah dan Rasulnya. Sehingga jika pemimpin memberi perintah yang menyalahi
aturan Allah dan Rasulnya maka tidak wajib ditaati.
Pertanyaan selanjutnya, siapakah
pemimpin itu atau siapa sajakah pemimpin yang harus ditaati? Syaikh Abdur
Rahman As-Sa’di menjelaskan yang dimaksud pemimpin adalah orang yang mengurusi
umat baik itu umara, pemerintah, maupun mufti-mufti. Beliau mengatakan: “Dan
Allah juga memerintahkan (kepada kaum mukminin) untuk taat kepada Ulil Amri,
yaitu orang yang mengurusi kepentingan umat, baik itu Umara, pemerintah maupun
mufti-mufti karena sesungguhnya tidak akan konsisten urusan Dien dan dunia
kecuali dengan taat kepada mereka dan tunduk kepada perintah-perintah mereka
dalam rangka taat kepada Allah dan mengharap pahala yang ada di sisi-Nya. Akan
tetapi dengan syarat mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Apabila mereka
memerintahkan kepada kemaksiatan, maka tidak ada taat kepada makhluk dalam
bermaksiat kepada Allah.” Berdasarkan pendapat ini maka yang dimaksud
dengan ulil amri (pemimpin) adalah orang-orang yang mengurusi kepentingan umat.
MANFAAT
KETAATAN
Sebagaimana yang tekah
diterangkan di atas, yang dimaksud dengan ulil amri adalah para pemimpin yang
mengurusi segala urusan kepentingan umat. Artinya mereka yang telah menjadi
pemimpin, baik itu melalui penunjukkan, pemilihan atau apapun yang
menyebabkannya menjadi pemimpin, tentu memiliki hak dan kewajiban membuat
aturan dalam rangka mengurusi kepentingan umat. Aturan yang sudah dibuat oleh
para pemimpin harus ditaati demi kemaslahatan bersama. Yang terpenting aturan
tersebut tidak menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, seperti misalnya melarang
sholat, melarang puasa, melarang ibadah haji, dsb.
Aturan dibuat untuk dilaksanakan
dengan tujuan menjaga ketertiban dan keteraturan itu sendiri. Melaksanakan
aturan berarti menjaga ketertiban dan keteraturan. Sebaliknya jika aturan itu
tidak dilaksanakan atau dilanggar bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.
Dengan melaksanakan aturan, berarti kita telah menjaga kepentingan umat dari
hal-hal yang bisa merusaknya.
Lalu bagaimana agar kita bisa
taat dalam menjaga aturan? Pertama, yang harus ditekankan adalah
melaksanakan aturan merupakan perintah dari Allah Swt. Tidak melaksanakan
aturan berarti melanggar perintah Allah dan itu termasuk ke dalam perbuatan
dosa. Jika kita ingin dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa
maka wajib untuk taat terhadap aturan serta melaksanakannya dengan ikhlas
sesuai dengan perintah Allah Swt. Kedua, taat kepada aturan dengan
melaksanakannya dapat menciptakan ketertiban dan keteraturan sehingga manusia
bisa menjalani hidupnya dengan aman dan damai. Ketiga, dengan selalu
berperilaku taat terhadap aturan dapat membimbing pelakunya untuk senantiasa memegang teguh
keimanan kepada Allah Swt.
Sumber rujukan:
https://salafy.or.id/blog/2005/12/13/taat/

No comments:
Post a Comment