Wednesday, 8 February 2017

Muhasabah dari Percikan Sejarah



Jam dua belas lewat beberapa menit, tengah malam, tanggal enam Juli 2011, hari Rabu, di atas kapal Ferry Jatra 1. Udara pelabuan Bakauhuni cukup terasa panas, di sapu udara laut yang dingin menembus tulang. Ku tatap langit yang sedikit berbintang. Lampu-lampu berkelap kelip yang cukup memukau dipandang mata di malam hari. Hamparan air laut, gelap, hitam seperti hati hambaMu dikala itu yang sedang kelam, pekat dengan dosa dan alfa yang sering hamba kerjakan dengan rasa gembira dan bangga.

Ya Rabb, ya Ilaahi

Ampuni hambaMu ini

Ampuni MakhlukMu yang hina ini

Luasnya laut, sangat jarang membuat hamba berfikir dan bertafakur, betapa Maha Hebat dan besarnya ayat kauniyahMu

Dengan laut, Engkau limpahkan betapa banyak rizki; ikan, garam, karang, ganggang, jasa angkutan, minyak bumi, dan berjuta nikmat lainnya

Ya ilaahi

Ampuni hambaMu yang jarang meneteskan air mata demi memohon ampunanMu

Ampuni hamhaMu yang sering takabur dan berbangga diri dengan karuniaMu

Betapa kerasnya hati hamba ya Allah

Engkau ingatkan hamba dengan firman-firmanMu

Tapi hati ini tidak jua tergugah

Engkau dekati hamba melalui shalat

Tapi hati ini tetap membatu dari mengingatMu

Engkau ingatkan hamba dengan sakit

Tapi tidak membuat hamba menjerit memohon ampunanMu

Engkau ingatkan hamba dengan meninggalnya seseorang

Tapi tidak membuat hamba lekas bertaubat

Ya ghofuur

Harus bagaimanakah cara hamba agar dapat meneteskan air mata

Demi mengingat betapa besar karuniaMu

Yang senantiasa menyertai hamba-hambaMu. Makhluk-makhlukMu yang dengan berbangga diri melanggar perintahMu,

Yang dengan sombongnya menjauhi perintahMu

Ya rabb

karuniakan hamba kenikmatan bercengkerama denganMu

karuniakan hamba kenikmatan mengingatMu

ya rabb

Betapa sulitnya mata ini untuk menangis

Betapa sukarnya hati ini untuk bergetar ketika namaMu disebut

Sudah begitu berkaratkan dosa-dosa hamba

Sudah begitu berakarkah maksiat-maksiat hamba

Yaa rabb.....

1 comment: