Seminar dan Parenting bersama Ayah Iwan
Sekolah Mutiara Bunda: Sabtu, 14 Januari 2017
Oleh Mohamad A. Iskandar, S. S.
Alhamduliilah, segala puji milik Allah
yang dengan karuniaNya masih memberikan sisa umur kepada kita untuk menjadi
seorang laki-laki, seorang suami, seorang pemimpin rumah tangga sekaligus
seorang ayah bagi anak-anak kita penerus agama dan bangsa. Sholawat serta salam
semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW karena melalui
beliaulah kita diajarkan tentang bagaimana cara mendidik anak-anak kita yang
nantinya tidak hanya sekedar memenuhi rumah kita namun menjadi aset investasi
di dunia dan akhirat.
Pada
awalnya, sempat ada rasa ingin menolak untuk hadir di kegiatan seminar dan
parenting yang bertema tentang ayah ini karena dilaksanakan di hari Sabtu yang
itu adalah jadwal libur saya. Sementara hari Sabtu dan Minggu adalah jadwal
saya bertemu dengan istri dan anak-anak (karena jarak rumah dan tempat kerja
cukup jauh saya menjadwalkan untuk pulang bertemu keluarga hanya di hari Sabtu
dan Minggu saja). Ketika saya ditugaskan untuk hadir, langsung saya menelepon
istri dan anak-anak bahwa hari Sabtu besok baru bisa pulang setelah seminar
selesai sekitar pukul dua siang. Alhamdulillah
istri cukup mengerti setelah mendapat penjelasan namun tentu berbeda dengan
tanggapan anak saya terutama yang paling besar. Ia cukup marah ketika tahu
ayahnya belum bisa pulang hari itu. Ya sudahlah, insyaallah istri siap menenangkannya...he...he...
Dari
pemaparan yang disampaikan oleh Ayah Iwan tentang pentingnya peran seorang ayah
dalam keluarga saya cukup mendapatkan banyak pelajaran. Poin intinya adalah
memang sangat penting kehadiran seorang ayah dalam wujud asli dalam bentuk
nyata di keluarga bukan dalam bentuk uang kertas, WA, atau SMS. Begitu
pentingnya peran seorang ayah, menurut Ayah Iwan, sampai-sampai peran itu harus
diperjuangkan karena para kompetitor ayah itu cukup banyak diantaranya game, gadget, TV, dan lain-lain. Ini tentu harus bisa membuat seorang
ayah berpikir tentang bagaimana caranya agar ia lebih menarik dibandingkan
kompetitornya tadi.
Anak-anak
kita, menurut Ayah Iwan, dapat digolongkan berdasarkan kebutuhan terhadap
ayah-bundanya adalah sebagai berikut:
0 – 7 tahun butuh ayah-bunda
7 – 14 tahun butuh ayah secara
lebih intens
14 – dewasa butuh mentor
Berdasarkan
penggolongan di atas, usia efektif ayah dekat dengan anak adalah pada usia 0 –
12 tahun dimana ayah-bunda dapat menanamkan seluruh harapan kita kepada anak
mulai dari sikap sampai cita-cita di masa yang akan datang. Di usia 0 – 7 tahun
kontak fisik harus lebih sering dilakukan seperti belaian, pelukan, bersalaman,
dan sebagainya. Kontak mata antara ayah dan anak tidak boleh lebih dari 45
sentimeter karena berdasarkan penelitian jarak efektif anak menerima dengan
baik apa yang disampaikan oleh orang tua adalah kurang dari 45 sentimeter.
Hal penting
lainnya yang berhubungan dengan perlunya ayah secara fisik ada dalam keluarga
adalah waktu berkualitas. Percuma saja jika ayah ada dan berkumpul bersama
keluarga tapi masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Ayah dengan
laptopnya, ibu dengan pekerjaan rumah tangganya, sementara anak-anak dibiarkan
sendiri dengan gadget atau nonton TV tanpa didampingi orang tua. Tinggalkan
semua rutinitas untuk beberapa saat, fokuskan ayah-bunda untuk bermain dan
bercengkrama dengan anak-anak. Bisa dimulai dengan sarapan pagi, berolahraga,
mencuci baju atau memasak bersama, sampai berekreasi ke luar rumah. Pergunakan
waktu yang ada dengan meninggalkan kesan yang mendalam pada diri anak.
Selanjutnya
yang perlu diperhatikan pula adalah komunikasi ayah dengan sekolah. Urusan
sekolah anak tidak hanya tanggung jawab ibu. Seorang ayah perlu juga untuk
berkomunikasi secara rutin denga pihak sekolah untuk mengetahui pekembangan
anaknya di sekolah. Bahkan ketika memilih sekolah bagi anak, ayah harus melihat
berbagai kepentingan. Pilihlah sekolah yang mampu mengembangkan karakter anak
bukan yang sebaliknya. Yang harus pula diperhatikan pada saat memilih sekolah
adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan outdoor activity mulai dari pelajaran Agama, Olah Raga dan
pelajaran-pelajaran lainnya.
Kesimpulan
Peran
ayah dalam keluarga sangat penting bahkan dapat menentukan masa depan anak dan
keluarga. Ayah tidak hanya sebatas memberi nafkah materi saja namun harus
disertai dengan nafkah batin yang dapat membawa kesan pada anak sehingga kesan
itu terbawa hingga dewasa. Anak adalah aset berharga dan investasi bagi
ayah-bundanya tidak hanya di dunia namun terlebih lagi ia adalah investasi di
akhirat kelak. Karena itu, ayah sebagai pemimpin rumah tangga dan keluarga
memiliki kewajiban hadir dan ada secara nyata di tengah keluarga untuk
membimbing dan mengarahkan anak-anak agar tetap berada di jalan yang benar.
Kita tentu menghendaki anak-anak kita menjadi penerus keluarga yang lebih baik
dari kita sehingga ia tidak hanya bermanfaat bagi keluarganya namun bermanfaat
pula untuk agama dan bangsanya.
Artikel ini juga bisa ditemukan di: http://mohamadiskandar72.blogspot.co.id/
Hatur nuhunn Pak Iss sudah sharing dan mengingatkan kembali peran Ayah :)
ReplyDeleteSemangat terus Pak menulisnya
Ijin saya share kan, boleh iya Pak is
ReplyDeleteMau ada pertanyaan sekalian, kayaknya pas sesi shearing hari kamis aja iya Pak ocky...
Siap bu Yanti
Deletepernah baca satu artikel yg isinya bahwa akan tjd loss generation krn ketiadaan figur ayah...
ReplyDeletenuhun pak Is.. buar reminder nyaa...
siap2 colek yg di sebelah inih maah..