Tuesday, 31 January 2017

Ayah Ada



Seminar dan Parenting bersama Ayah Iwan
Sekolah Mutiara Bunda: Sabtu, 14 Januari 2017
Oleh Mohamad A. Iskandar, S. S.


                Alhamduliilah, segala puji milik Allah yang dengan karuniaNya masih memberikan sisa umur kepada kita untuk menjadi seorang laki-laki, seorang suami, seorang pemimpin rumah tangga sekaligus seorang ayah bagi anak-anak kita penerus agama dan bangsa. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW karena melalui beliaulah kita diajarkan tentang bagaimana cara mendidik anak-anak kita yang nantinya tidak hanya sekedar memenuhi rumah kita namun menjadi aset investasi di dunia dan akhirat.
                Pada awalnya, sempat ada rasa ingin menolak untuk hadir di kegiatan seminar dan parenting yang bertema tentang ayah ini karena dilaksanakan di hari Sabtu yang itu adalah jadwal libur saya. Sementara hari Sabtu dan Minggu adalah jadwal saya bertemu dengan istri dan anak-anak (karena jarak rumah dan tempat kerja cukup jauh saya menjadwalkan untuk pulang bertemu keluarga hanya di hari Sabtu dan Minggu saja). Ketika saya ditugaskan untuk hadir, langsung saya menelepon istri dan anak-anak bahwa hari Sabtu besok baru bisa pulang setelah seminar selesai sekitar pukul dua siang. Alhamdulillah istri cukup mengerti setelah mendapat penjelasan namun tentu berbeda dengan tanggapan anak saya terutama yang paling besar. Ia cukup marah ketika tahu ayahnya belum bisa pulang hari itu. Ya sudahlah, insyaallah istri siap menenangkannya...he...he...


                Dari pemaparan yang disampaikan oleh Ayah Iwan tentang pentingnya peran seorang ayah dalam keluarga saya cukup mendapatkan banyak pelajaran. Poin intinya adalah memang sangat penting kehadiran seorang ayah dalam wujud asli dalam bentuk nyata di keluarga bukan dalam bentuk uang kertas, WA, atau SMS. Begitu pentingnya peran seorang ayah, menurut Ayah Iwan, sampai-sampai peran itu harus diperjuangkan karena para kompetitor ayah itu cukup banyak diantaranya game, gadget, TV, dan lain-lain. Ini tentu harus bisa membuat seorang ayah berpikir tentang bagaimana caranya agar ia lebih menarik dibandingkan kompetitornya tadi.
                Anak-anak kita, menurut Ayah Iwan, dapat digolongkan berdasarkan kebutuhan terhadap ayah-bundanya adalah sebagai berikut:
0 – 7 tahun butuh ayah-bunda
7 – 14 tahun butuh ayah secara lebih intens
14 – dewasa butuh mentor
Berdasarkan penggolongan di atas, usia efektif ayah dekat dengan anak adalah pada usia 0 – 12 tahun dimana ayah-bunda dapat menanamkan seluruh harapan kita kepada anak mulai dari sikap sampai cita-cita di masa yang akan datang. Di usia 0 – 7 tahun kontak fisik harus lebih sering dilakukan seperti belaian, pelukan, bersalaman, dan sebagainya. Kontak mata antara ayah dan anak tidak boleh lebih dari 45 sentimeter karena berdasarkan penelitian jarak efektif anak menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh orang tua adalah kurang dari 45 sentimeter.
Hal penting lainnya yang berhubungan dengan perlunya ayah secara fisik ada dalam keluarga adalah waktu berkualitas. Percuma saja jika ayah ada dan berkumpul bersama keluarga tapi masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Ayah dengan laptopnya, ibu dengan pekerjaan rumah tangganya, sementara anak-anak dibiarkan sendiri dengan gadget atau nonton TV tanpa didampingi orang tua. Tinggalkan semua rutinitas untuk beberapa saat, fokuskan ayah-bunda untuk bermain dan bercengkrama dengan anak-anak. Bisa dimulai dengan sarapan pagi, berolahraga, mencuci baju atau memasak bersama, sampai berekreasi ke luar rumah. Pergunakan waktu yang ada dengan meninggalkan kesan yang mendalam pada diri anak.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan pula adalah komunikasi ayah dengan sekolah. Urusan sekolah anak tidak hanya tanggung jawab ibu. Seorang ayah perlu juga untuk berkomunikasi secara rutin denga pihak sekolah untuk mengetahui pekembangan anaknya di sekolah. Bahkan ketika memilih sekolah bagi anak, ayah harus melihat berbagai kepentingan. Pilihlah sekolah yang mampu mengembangkan karakter anak bukan yang sebaliknya. Yang harus pula diperhatikan pada saat memilih sekolah adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan outdoor activity mulai dari pelajaran Agama, Olah Raga dan pelajaran-pelajaran lainnya.

Kesimpulan

                Peran ayah dalam keluarga sangat penting bahkan dapat menentukan masa depan anak dan keluarga. Ayah tidak hanya sebatas memberi nafkah materi saja namun harus disertai dengan nafkah batin yang dapat membawa kesan pada anak sehingga kesan itu terbawa hingga dewasa. Anak adalah aset berharga dan investasi bagi ayah-bundanya tidak hanya di dunia namun terlebih lagi ia adalah investasi di akhirat kelak. Karena itu, ayah sebagai pemimpin rumah tangga dan keluarga memiliki kewajiban hadir dan ada secara nyata di tengah keluarga untuk membimbing dan mengarahkan anak-anak agar tetap berada di jalan yang benar. Kita tentu menghendaki anak-anak kita menjadi penerus keluarga yang lebih baik dari kita sehingga ia tidak hanya bermanfaat bagi keluarganya namun bermanfaat pula untuk agama dan bangsanya.



Artikel ini juga bisa ditemukan di: http://mohamadiskandar72.blogspot.co.id/

4 comments:

  1. Hatur nuhunn Pak Iss sudah sharing dan mengingatkan kembali peran Ayah :)

    Semangat terus Pak menulisnya

    ReplyDelete
  2. Ijin saya share kan, boleh iya Pak is

    Mau ada pertanyaan sekalian, kayaknya pas sesi shearing hari kamis aja iya Pak ocky...

    ReplyDelete
  3. pernah baca satu artikel yg isinya bahwa akan tjd loss generation krn ketiadaan figur ayah...
    nuhun pak Is.. buar reminder nyaa...
    siap2 colek yg di sebelah inih maah..

    ReplyDelete