(Community Study Work SMA Mutiara Bunda: Perkebunan Teh Patuha sub Cileueur, 25 - 27 Oktober 2017)
Oleh: M. A. Iskandar
Beberapa
hari yang lalu, saya mengunjungi sebuah desa yang terletak di wilayah Gunung
Patuha, Kawah Putih, Ciwidey. Perjalanan dari Bandung sekitar 3 – 4 jam dengan
menggunakan kendaraan roda empat. Di wilayah Kopo – Soreang perjalanan sempat
tersendat di beberapa titik karena kemacetan. Lepas dari kemacetan di wilayah
Soreang menuju Ciwidey perjalanan cukup lancer hingga kawasan Kawah Putih.
Berbelok ke sebelah kiri dari Kawah Putih, perjalanan menemui jalan berbatu dan
berkelok. Keluar sedikit beberapa meter dari kawasan hutan di sekitar Kawah
Putih, kita akan menemui hamparan luas perkebunan teh Patuha bagai karpet hijau
yang terbentang menutupi seluruh kawasan gunung ini. Pemandangan luar biasa
indah dengan langit biru diselingi awan-awan putih yang tipis menambah
keindahan serta kesejukan kawasan ini.
Desa
itu bernama Cileueur, sebuah desa kecil yang terdiri dari sekitar 20 rumah
dengan hanya dihuni oleh 38 kepala keluarga. Dari kawasan Kawah Putih, letak
desa ini berjarak kurang lebih 10 kilometer. Perjalanan menuju tempat itu cukup
berat karena harus melewati jalan berbelok dan tanah berbatu. Supir kami harus
berhati-hati dan terampil dalam menjalankan kendaraannya. Perjalanan akan
semakin berat apabila hujan atau kabut tebal menutupi wilayah ini. Di beberapa
titik jalan sangat dekat dengan lereng bukit atau jalan kecil pinggir lembah
membuat kendaraan harus berjalan perlahan. Sebelum sampai ke Cileueur, kita
akan melewati dua desa terlebih dahulu yaitu Barusel dan Cileueur Tonggoh.
Meski
perjalanan cukup berat, pemandangan di sini sungguh luar biasa dan sangat menakjubkan.
Rasanya tak berlebihan jika mereka yang memandang begitu hijaunya perkebunan
teh Patuha, akan merasa seperti melihat permadani taman syurga yang menghampar
mengikuti lekuk muka bumi. Dari atas salah satu bukitnya kurang lebih 2200
meter dpl, sejauh mata memandang kita bisa melihat dari kejauhan garis pantai
dan riak ombak kecil Pantai Jayanti dan Santolo. Sungguh pemandangan yang
takkan pernah bosan kita nikmati. Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat
keindahan Danau/Situ Patenggang dengan
kejernihan airnya. Ini adalah salah satu anugerah Allah SWT yang patut kita
syukuri.
Berbanding
terbalik dengan kondisi alam yang begitu indah dan luar biasa, kondisi
kehidupan sosial masyarakat Cileueur bisa dikatakan cukup memprihatinkan.
Barisan-barisan bukit perkebunan teh seolah mengisolasi kehidupan mereka mulai
dari akses jalan yang terjal, berbatu, dan berkelok hingga sarana dan prasarana
yang seadanya. Rumah-rumah di sini merupakan rumah semi permanen yang terbuat
dari bilik bambu tanpa fasilitas MCK di dalam rumah. Jika dikira-kira maka luas
rumahnya kurang lebih setara dengan rumah sederhana tipe 21 dengan satu kamar
tidur, dapur dan ruang tamu yang tidak begitu luas. Di dapur terdapat tungku
untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar. Hanya satu atau dua rumah yang menggunakan
kompor gas, itu pun kadang-kadang saja bisa dipergunakan karena untuk membeli
gas jaraknya cukup jauh.
Sebenarnya
rumah-rumah ini dibangun sebagai salah satu fasilitas yang diberikan perusahaan
teh untuk karyawannya agar mereka tidak perlu jauh-jauh bekerja dari rumah ke
tempat pekerjaannya. Karena jarak yang cukup jauh itu pula karyawan-karyawan
perkebunan teh membawa keluarga mereka untuk tinggal di rumah tersebut. Dari
sinilah kemudian berdiri kampung-kampung karyawan perkebunan teh. Di wilayah
Gunung Patuha terdapat 12 desa atau RT/RW atau biasa juga disebut sub yang
dibangun perusahaan. Rumah-rumah yang berada di sub Cileueur dibuat berderet di
kanan-kiri jalan utama. Di tengah deretan rumah itu terdapat masjid dan rumah mandor
yang sekaligus merangkap sebagai ketua RT. Ada pula satu rumah yang difungsikan sebagai
sekolah bagi anak-anak karyawan perkebunan teh.
Secara
administratif, wilayah sub Cileueur dan 11 sub wilayah lainnya di perkebunan teh
ini memang tidak masuk sebagai perkampungan/desa yang tercatat di pemerintahan
kabupaten Ciwidey. Sehingga wajar apabila perangkat pemerintahan tidak
mengetahui keberadaan kampung/desa di wilayah ini karena memang tidak tercatat
sebagai desa/kampung dalam pemerintahan kabupaten. Ia hanya dianggap sebagai
perumahan karyawan biasa layaknya rumah dinas sementara untuk menampung
karyawan yang bekerja di perkebunan teh tersebut.
Beralih
ke tujuan utama saya berada di sana yaitu dalam rangka melaksanakan CSW (Community Study Work) yang merupakan
program SMA Mutiara Bunda dalam rangka mengasah empati, kepedulian, serta
Latihan Dasar Kepemimpinan bagi siswa-siswa SMA Mutiara Bunda. Program ini
diikuti siswa kelas 10 dan 11 dengan jumlah peserta kurang lebih 60 orang. Kegiatan-kegiatan
yang dilaksanakan di Cileueur diantaranya hiking, mengajar, renovasi sekolah,
membersihkan masjid, aktivitas bersama warga seperti memetik teh, dan aktivitas
lain yang terintegrasi dengan Latihan Dasar Kepemimpinan. Selama tiga hari
tepatnya Rabu – Jumat, 25 – 27 Oktober 2017, siswa SMA Mutiara Bunda ditempa
dalam lingkungan masyarakat setempat agar mereka bisa mengenal lingkungan yang
sebenarnya. Dari program ini siswa diharapkan dapat menjadi individu yang
peduli dengan lingkungan, mandiri dan mampu memberi solusi terhadap permasalahan
sosial, dan menerapkan wawasan, pengetahuan serta skill yang telah mereka
dapatkan di sekolah.
Kondisi
cuaca yang cukup dingin disertai beberapa kali hujan deras dan berkabut tidak
menyurutkan semangat para siswa untuk tetap melakukan kegiatan ini sampai
akhir. Dan kesan yang mereka dapatkan pun sangat luar biasa. Mereka menyatakan
bahwa mereka sangat senang bisa merasakan keindahan suasana alam pedesaan yang
masih asri dan sejuk. Selain itu, hal yang membuat mereka bahagia adalah ketika
bisa berbagi ilmu, materi, dan cerita tentang kehidupan yang mereka jalani di
dua kondisi yang berbeda antara desa dan kota. Hal ini terlihat saat presentasi
tentang kesan yang mereka dapatkan selama kegiatan CSW berlangsung dalam bentuk
puisi dan film dokumenter.
Dari
apa yang disampaikan para siswa tentang kegiatan ini terbersit sebuah harapan
bahwa sebenarnya mereka memiliki kepekaan dan kepedulian yang cukup besar
terhadap masyarakat dan lingkungannya. Mereka menyatakan bahwa suatu saat nanti
mereka ingin membuat perubahan meski kecil namun memiliki arti bagi masyarakat.
Misalnya ketika mereka mengajak anak-anak desa bermain dan belajar bersama ternyata
manfaatnya luar biasa. Hal itu bukan hanya sekedar memberi hiburan dan kesan
sesaat. Momen kebersamaan yang terjalin lewat bermain dan belajar menjadi
kenangan tersendiri bagi anak-anak desa itu bahwa di luar sana masih ada yang
peduli terhadap mereka. Kita tentu berharap ketika kelak mereka dewasa nanti
sikap kepedulian ini tetap melekat dan bisa mereka sebarkan kepada yang lain. Lebih
jauh dan cita-cita ke depan adalah sikap peka dan peduli menjadi ciri dan
kebiasaan kita sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang peka dan peduli
terhadap sesama. Semoga……………………
Koleksi Foto: Tim CSW SMA Mutiara Bunda

























No comments:
Post a Comment