Tuesday, 7 November 2017

CILEUEUR: KEINDAHAN, KETIMPANGAN SOSIAL, DAN HARAPAN



(Community Study Work SMA Mutiara Bunda: Perkebunan Teh Patuha sub Cileueur, 25 - 27 Oktober 2017)
 Oleh: M. A. Iskandar

                Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi sebuah desa yang terletak di wilayah Gunung Patuha, Kawah Putih, Ciwidey. Perjalanan dari Bandung sekitar 3 – 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Di wilayah Kopo – Soreang perjalanan sempat tersendat di beberapa titik karena kemacetan. Lepas dari kemacetan di wilayah Soreang menuju Ciwidey perjalanan cukup lancer hingga kawasan Kawah Putih. Berbelok ke sebelah kiri dari Kawah Putih, perjalanan menemui jalan berbatu dan berkelok. Keluar sedikit beberapa meter dari kawasan hutan di sekitar Kawah Putih, kita akan menemui hamparan luas perkebunan teh Patuha bagai karpet hijau yang terbentang menutupi seluruh kawasan gunung ini. Pemandangan luar biasa indah dengan langit biru diselingi awan-awan putih yang tipis menambah keindahan serta kesejukan kawasan ini.

                Desa itu bernama Cileueur, sebuah desa kecil yang terdiri dari sekitar 20 rumah dengan hanya dihuni oleh 38 kepala keluarga. Dari kawasan Kawah Putih, letak desa ini berjarak kurang lebih 10 kilometer. Perjalanan menuju tempat itu cukup berat karena harus melewati jalan berbelok dan tanah berbatu. Supir kami harus berhati-hati dan terampil dalam menjalankan kendaraannya. Perjalanan akan semakin berat apabila hujan atau kabut tebal menutupi wilayah ini. Di beberapa titik jalan sangat dekat dengan lereng bukit atau jalan kecil pinggir lembah membuat kendaraan harus berjalan perlahan. Sebelum sampai ke Cileueur, kita akan melewati dua desa terlebih dahulu yaitu Barusel dan Cileueur Tonggoh. 

                Meski perjalanan cukup berat, pemandangan di sini sungguh luar biasa dan sangat menakjubkan. Rasanya tak berlebihan jika mereka yang memandang begitu hijaunya perkebunan teh Patuha, akan merasa seperti melihat permadani taman syurga yang menghampar mengikuti lekuk muka bumi. Dari atas salah satu bukitnya kurang lebih 2200 meter dpl, sejauh mata memandang kita bisa melihat dari kejauhan garis pantai dan riak ombak kecil Pantai Jayanti dan Santolo. Sungguh pemandangan yang takkan pernah bosan kita nikmati. Dari sisi yang lain, kita juga bisa melihat keindahan Danau/Situ Patenggang  dengan kejernihan airnya. Ini adalah salah satu anugerah Allah SWT yang patut kita syukuri.

                Berbanding terbalik dengan kondisi alam yang begitu indah dan luar biasa, kondisi kehidupan sosial masyarakat Cileueur bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Barisan-barisan bukit perkebunan teh seolah mengisolasi kehidupan mereka mulai dari akses jalan yang terjal, berbatu, dan berkelok hingga sarana dan prasarana yang seadanya. Rumah-rumah di sini merupakan rumah semi permanen yang terbuat dari bilik bambu tanpa fasilitas MCK di dalam rumah. Jika dikira-kira maka luas rumahnya kurang lebih setara dengan rumah sederhana tipe 21 dengan satu kamar tidur, dapur dan ruang tamu yang tidak begitu luas. Di dapur terdapat tungku untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar. Hanya satu atau dua rumah yang menggunakan kompor gas, itu pun kadang-kadang saja bisa dipergunakan karena untuk membeli gas jaraknya cukup jauh.


                Sebenarnya rumah-rumah ini dibangun sebagai salah satu fasilitas yang diberikan perusahaan teh untuk karyawannya agar mereka tidak perlu jauh-jauh bekerja dari rumah ke tempat pekerjaannya. Karena jarak yang cukup jauh itu pula karyawan-karyawan perkebunan teh membawa keluarga mereka untuk tinggal di rumah tersebut. Dari sinilah kemudian berdiri kampung-kampung karyawan perkebunan teh. Di wilayah Gunung Patuha terdapat 12 desa atau RT/RW atau biasa juga disebut sub yang dibangun perusahaan. Rumah-rumah yang berada di sub Cileueur dibuat berderet di kanan-kiri jalan utama. Di tengah deretan rumah itu terdapat masjid dan rumah mandor yang sekaligus merangkap sebagai ketua RT.  Ada pula satu rumah yang difungsikan sebagai sekolah bagi anak-anak karyawan perkebunan teh.


                Secara administratif, wilayah sub Cileueur dan 11 sub wilayah lainnya di perkebunan teh ini memang tidak masuk sebagai perkampungan/desa yang tercatat di pemerintahan kabupaten Ciwidey. Sehingga wajar apabila perangkat pemerintahan tidak mengetahui keberadaan kampung/desa di wilayah ini karena memang tidak tercatat sebagai desa/kampung dalam pemerintahan kabupaten. Ia hanya dianggap sebagai perumahan karyawan biasa layaknya rumah dinas sementara untuk menampung karyawan yang bekerja di perkebunan teh tersebut.
                Beralih ke tujuan utama saya berada di sana yaitu dalam rangka melaksanakan CSW (Community Study Work) yang merupakan program SMA Mutiara Bunda dalam rangka mengasah empati, kepedulian, serta Latihan Dasar Kepemimpinan bagi siswa-siswa SMA Mutiara Bunda. Program ini diikuti siswa kelas 10 dan 11 dengan jumlah peserta kurang lebih 60 orang. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Cileueur diantaranya hiking, mengajar, renovasi sekolah, membersihkan masjid, aktivitas bersama warga seperti memetik teh, dan aktivitas lain yang terintegrasi dengan Latihan Dasar Kepemimpinan. Selama tiga hari tepatnya Rabu – Jumat, 25 – 27 Oktober 2017, siswa SMA Mutiara Bunda ditempa dalam lingkungan masyarakat setempat agar mereka bisa mengenal lingkungan yang sebenarnya. Dari program ini siswa diharapkan dapat menjadi individu yang peduli dengan lingkungan, mandiri dan mampu memberi solusi terhadap permasalahan sosial, dan menerapkan wawasan, pengetahuan serta skill yang telah mereka dapatkan di sekolah.




                Kondisi cuaca yang cukup dingin disertai beberapa kali hujan deras dan berkabut tidak menyurutkan semangat para siswa untuk tetap melakukan kegiatan ini sampai akhir. Dan kesan yang mereka dapatkan pun sangat luar biasa. Mereka menyatakan bahwa mereka sangat senang bisa merasakan keindahan suasana alam pedesaan yang masih asri dan sejuk. Selain itu, hal yang membuat mereka bahagia adalah ketika bisa berbagi ilmu, materi, dan cerita tentang kehidupan yang mereka jalani di dua kondisi yang berbeda antara desa dan kota. Hal ini terlihat saat presentasi tentang kesan yang mereka dapatkan selama kegiatan CSW berlangsung dalam bentuk puisi dan film dokumenter.











                Dari apa yang disampaikan para siswa tentang kegiatan ini terbersit sebuah harapan bahwa sebenarnya mereka memiliki kepekaan dan kepedulian yang cukup besar terhadap masyarakat dan lingkungannya. Mereka menyatakan bahwa suatu saat nanti mereka ingin membuat perubahan meski kecil namun memiliki arti bagi masyarakat. Misalnya ketika mereka mengajak anak-anak desa bermain dan belajar bersama ternyata manfaatnya luar biasa. Hal itu bukan hanya sekedar memberi hiburan dan kesan sesaat. Momen kebersamaan yang terjalin lewat bermain dan belajar menjadi kenangan tersendiri bagi anak-anak desa itu bahwa di luar sana masih ada yang peduli terhadap mereka. Kita tentu berharap ketika kelak mereka dewasa nanti sikap kepedulian ini tetap melekat dan bisa mereka sebarkan kepada yang lain. Lebih jauh dan cita-cita ke depan adalah sikap peka dan peduli menjadi ciri dan kebiasaan kita sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang peka dan peduli terhadap sesama. Semoga……………………  


           
                       Koleksi Foto: Tim CSW SMA Mutiara Bunda

No comments:

Post a Comment