gambar diambil dari: http://publicspeaking.co.id/salah-satu-permasalahan-guru-saat-mengajar-di-dalam-atau-luar-kelas/
By Iskandar
Hari ini adalah hari pertama
saya mulai mengajar di kelas dua belas. Kelas yang kata sebagaian besar guru di
sekolah ini adalah kelas dengan siswa paling aktif di dunia dan akhirat. Dianggap
paling aktif karena setiap siswa di kelas ini tidak ada yang memiliki prinsip “diam
itu emas”. Menurut pendapat mereka “kalo diam itu emas maka tidak diam itu
berarti berlian yang harganya berkali-kali lipat daripada emas”. Karena itu,
tidak ada satu siswa pun di kelas ini yang duduk-diam-dengar kemudian tidur sebagaimana
layaknya ketika mendengar pidato dari para pejabat atau calon legislatif yang
ngomongin janji-janji palsu. Pokonya kalau ada siswa yang diam di kelas ini
maka guru kelas harus segera menelpon ambulan atau dokter terdekat untuk segera
memeriksakan kondisi kesehatan siswa tersebut. Atau patut diduga sang siswa
sedang putus sama pacarnya yang kemudian termenung memikirkan langkah
selanjutnya yang lebih berani daripada sekedar minum racun serangga. Langkah berani
itu diantaranya minum es cendol Elizabeth yang terkenal enak dan nikmat
walaupun sudah kadaluarsa.
Di kelas dua belas ini ada saja
yang dikerjakan siswa mulai dari ngobrol, lari-lari di kelas, bernyanyi (walau
pun banyak orang -ketika ada siswa dikelas ini menyanyi- tidak bisa membedakan
antara suara nyanyian dengan suara gelas pecah), nyuci baju, nyetrika, bikin
sumur, balap motor, maen bola, bahkan Perang Dunia ke-3 pun mungkin bisa
dilakukan di kelas ini. Jadi wajar saja kalau guru-guru yang kurang siap dengan
perlengkapan perangnya seperti rompi anti peluru dan rudal, ketika selesai
mengajar di kelas ini akan keluar dengan kepala berasap dan baju
compang-camping. Untuk itu para guru senior sering memberikan tips masuk kelas
12, diantaranya:
1.
mandi sebelum berangkat kerja
2.
jangan lupa gosok gigi
3.
pakai helm jika berkendara
menggunakan motor dan lengkapi dengan surat-surat jika khawatir di tilang bapak
polisi serta taati peraturan lalu lintas
4.
makanlah makanan bergizi dan
imunisasi
5.
kalau tidak kuat segera pergi
ke toilet jangan ditahan apalagi cuman melambaikan tangan ke kamera bisa-bisa
kedodoran di jalan
6.
berdoa dan berpasrah diri
kepada Allah Swt (hadirin silakan berdiri dan berikan tepuk tangan untuk tips
yang satu ini!)
Sebagai seorang guru yang belum berpengalaman, hari pertama mengajar
adalah kesan pertama yang tentu akan dikenang baik oleh guru maupun para siswa.
Jadi, saya pun mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya seluruh pelengkapan
mengajar mulai dari kunci inggris, obeng kembang, semen 1 sak, batu bata satu truk,
sekop, ram kawat, dan genteng jatiwangi (eh maaf, ini sebenarnya peralatan
bangun rumah bukan buat mengajar di sekolah…..sekali lagi maaf…..salah ketik). Tapi
yang pasti bagi saya, guru itu harus mempersiapkan ATK (ATK jangan diartikan
Alat Tukang Kebun).
Siaaapp!!! Tiba waktu mengajar. Ruangan kelas dua belas terlihat
begitu menyeramkan jika dilihat dari dunia ghaib (untungnya saya tidak hidup di
dunia ghaib). Melewati lorong, lembah, ngarai, gunung berapi, Samudera Pasifik,
jembatan rotan yang hampir putus talinya, flying
fox dengan jarak tempuh 250 km/jam, tidak ketinggalan berbagai binatang
buas mulai dari ular derik, tarantula berkaki delapan, hingga T-Rex dengan
tinggi enam belas kaki serta buaya darat yang siap memangsa siapapun karena
mereka tidak makan selama empat tahun terakhir akibat dari melonjaknya
harga-harga kebutuhan pokok merupakan rintangan yang tidak mudah untuk
ditaklukan.
Layaknya seorang guru sejati, semua itu tidaklah membuat ciut nyali.
Bahkan sebesar apapun rintangan yang dihadapi justru membuat diri ini semakin
termotivasi. Gunung yang tinggi kan ku daki, lautan luas ku seberangi, tidak
lain semuanya itu untuk mereka, para pemuda harapan bangsa, calon-calon
pemimpin di masa depan (silakan hadirin boleh berdiri lagi untuk memberi
applaus). Untuk itu, sebagaimana pepatah mengatakan “jauh di jugjug anggang di teang, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi sa
logak, mens sana incorpore sano, ai wa subete ni uchikatsu (jangan
diartikan cihcken katsu), urieui enidoga urieui hyeonsireul mandeunda (ini
bahasa Korea tapi bukan kata Kim Jong Il)”
udahlah saya simpulkan saja artinya “Ayo Kita Belajar”. Karena pepatah ini pula
langkah saya pun semakin mantap.
Medan perang di depan sudah mulai nampak. Dentuman bom dan desingan
peluru semakin kencang terdengar ketika mulai tiba di depan pintu kelas dua
belas. Inilah perang sesungguhnya. Ku buka dengan secepat kilat pintu kelas dan
ku teriakan salam “Assalamualaikum……..anak-anak!!!!”.
Tiba-tiba suasana hening seketika………………….wah luar biasa!!! Teriakan ku
menghentikan seluruh kekacauan ini. Ternyata kehororan kelas dua belas yang
selama ini digembor-gemborkan media mainstream hanyalah isapan jempol semata.
Saya pun semakin percaya diri. Berdiri di depan kelas dengan
gagahnya.
“Silakan keluarkan buku Geografi kalian! Hari ini kita akan
mempelajari bentuk-bentuk permukaan bumi dan fenomenanya, terutama di bumi
Indonesia kita tercinta!”
Para siswa mungkin masih takjub dengan sosok yang ada dihadapan
mereka. Terlihat dari mimik wajah mereka yang hanya bengong saja ketika saya
meminta mereka mengeluarkan buku pelajaran.
Sesaat kemudian seorang siswa maju ke depan, ia bertanya
sambil berbisik, “Pak, bapak guru Geografi?”
“Iya”, jawab saya tegas.
“Oh maaf pak, bapak salah kelas. Ini kelas memasak, pelajaran
Geografi di kelas sebelah pak!”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Krik! Krik! Krik!
“Kenapa nggak ngasih tau dari tadi? Makanya kalo ini kelas memasak
harusnya bawa kompor gas masing-masing. Paham!!! Iya sudah kalau begitu bapak
mohon pamit karena masih harus mengajar di kelas lain. Selamat Pagi!!!”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Inti cerita: Buat seluruh
guru harap mengecek lagi kelas mana yang Anda masuki. Siapa tau kelas yang Anda
masuki adalah kelas menjahit. Salam Guru Pembelajar!!!

Lucuuuu pak is, sukaaa....lebih santai.
ReplyDeleteWkwkwk... Pak Is geuning lucu ya 😁
ReplyDelete