Tuesday, 28 April 2020

MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN DAN KEJAYAAN ISLAM DINASTI UMAYAH

Oleh M. A. Iskandar



Mengenal Mu’awiyah Bin Abi Sufyan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sahabat yang istimewa di sisi Nabi Saw. Beliau adalah salah satu jurus tulis Rasulullah yang juga menulis Al-Quran. Masuk Islam di masa sebelum Fathu Mekah, Mu’awiyah menjadi sosok yang dicintai Nabi Saw. Tidak hanya sahabat Nabi, ia juga termasuk ahli fikih sebagaimana dalam hadis disebutkan dari Ibnu Abi Malikah berkata, “Mu’awiyah mengerjakan shalat witir satu rakaat sesudah Isya dan disampingnya terdapat seorang lelaki bekas budak Ibnu Abbas. Lelaki itu lalu menceritakannya kepada Ibnu Abbas dan dijawab, ‘Biarkanlah ia karena ia sahabat Rasulullah.’” Dalam riwayat lain disebutkan, “… karena ia ahli fikih.” (H. R. Bukhari)
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Minhaj al-Sunnah menyebutkan, “Dari sekian banyak raja umat muslim, tidak ada satu raja pun sebaik Mu’awiyah.” Berdasarkan pendapat ini menunjukkan bahwa Mu’awiyah termasuk pemimpin yang baik dan kepemimpinannya pun diakui sebagai masa yang terbaik dibandingkan penguasa-penguasa muslim lainnya. Ibnu Taimiyah juga menyatakan, “Periode kekuasaan dan rakyatnya adalah periode terbaik dari periode-periode penguasa lainnya.” Nabi Saw pernah bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan ia mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikannya dan ia mendoakan kebaikan kalian; dan seburuk-buruk pemimpin adalah yang kalian benci dan ia membenci kalian, kalian melaknatnya dan ia melaknat kalian.” (Hadis Shahih).
Keutamaan Mu’awiyah juga banyak disebutkan dalam berbagai sumber. Sebagaimana hadis yang telah disebutkan di atas, Ibnu Abas juga menegaskan dan mengakui kefakihan serta kealiman Mu’awiyah. Ibnu Khaldun pun menyatakan, “Dinasti Umayah dan semua informasinya hendaknya disambungkan dengan informasi-informasi kekhalifahan Khulaur Rasyidin. Sebab yang pertama menyusul yang kedua dalam hal keutamaan, keadilan, dan shuhbah.” Begitu pula di dalam hadis Umm haram diceritakan bahwa ada sekelompok umat muslim yang akan berperang di lautan seperti tengah duduk atau berdiri di singgasana. Dari Umm Haram binti Milham bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Pasukan pertama dari umatku yang berperang di lautan telah ditentukan. Pasukan pertama dari umatku yang menyerang kota Kaisar (Byzantium) telah diampuni kesalahannya.” (H. R. Bukhari). Armada laut pertama yang melakukan ekspedisi ke wilayah Byzantium tak lain adalah pasukan Mu’awiyah di bawah kekhalifahan Utsman bin Affan.

Pengangkatan Mu’awiyah sebagai Khalifah
Banyak yang mengatakan terpilihnya Mu’awiyah sebagai khalifah karena adanya tipu daya yang dilakukannya terhadap Ali bin Abi Thalib. Isu ini dihembuskan kaum khawarij yang memang sejak awal tak menginginkan adanya perdamaian di antara kaum muslimin. Mu’awiyah memang menunda baiatnya kepada Ali karena ia menginginkan ditegakannya qisas terhadap pembunuh Utsman bin Affan. Thalhah bin Ubaydillah dan Zubayr bin Awwam termasuk yang menuntut hal itu pula. Sementara Ali bin Abi Thalib disibukkan dengan pemberontakan oleh sekelompok orang yang telah menguasai Madinah. Ali bin Abi Thalib sebenarnya bukan menolak qisas atas pembunuh Utsman namun masalah pemberontakan menjadi prioritas utama yang hendak dituntaskan. Ia mengatakan kepada Thalhah dan Zubayr, “Bagaimana mungkin aku bisa menindak orang-orang yang menguasai kita, sementara kita tidak kuasa atas mereka? Masalah ini (pemberontakan) sudah masuk perkara jahiliah. Jadi, tenanglah kalian hingga semua orang tenang, hati berada pada tempatnya, dan hak-hak tertunaikan.”
Antara Ali dan Mu’awiyah sebenarnya telah terjadi kesepakatan damai. Pada 39 H, Ali dan Mu,awiyah sepakat untuk menghentikan peperangan dengan syarat Mu’awiyah menguasai wilayah Syam tanpa campur tangan Amirul Mukminin. Kaum Khawarij tidak puas dengan kesepakatan ini. Mereka senantiasa ingin merusak perdamaian itu dengan berbagai cara diantaranya rencana pembunuhan kepada Mu’awiyah, Ali, dan Amr bin al-Ash. Dari ketiganya hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil mereka bunuh.
Setelah syahidnya Ali, penduduk Madinah membaiat Hasan bin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pada Syawal abad 40 H. Kurang lebih setahun kemudian, Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada Mu’awiyah demi menjaga persatuan umat. Dengan demikian fitnah bahwa penolakan baiat Mu’awiyah kepada Ali bin Abi thalib karena menginginkan jabatan khalifah terbantahkan dengan sendirinya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan ‘am al-jama’ah (tahun persatuan). Hal ini sesuai pula dengan sabda Rasulullah Saw mengenai Hasan, “Sungguh anakku ini adalah sayyid (penghulu). Mudah-mudahan melalui dirinya Allah mendamaikan dua kelompok besar umat Islam yang berselisih.” Dua kelompok Islam terbesar saat itu diketahui yaitu Mu’awiyah dan Ali.
Mu’awiyah kemudian dibaiat oleh seluruh kaum muslimin meskipun saat itu masih ada juga sahabat yang lebih utama. Akan tetapi, para ulama sepakat bahwa orang mafdhul (mulia) berhak menjadi pemimpin meskipun ada orang lain yang lebih afdhal (mulia darinya) kecuali jika syarat kepemimpinan tidak terpenuhi. Tingkat kemuliaan hanyalah salah satu pertimbangan untuk dipilih, bukan syarat utama kepemilikan hak untuk dipilih. Kemuliaan Mu’awiyah telah disebutkan dari berbagai hadis dan pendapat ulama yang telah disebutkan di atas.
Kepemimpinan Mu’awiyah terkenal sangat tegas dan tanpa kompromi. Hal ini menjadikan masayarakat bisa hidup aman dan tentram tanpa gangguan apapun. Bahkan seorang perempuan pun tidak merasa takut tidur sendirian walaupun pintu rumahnya tak terkunci. Karena ketegasannya pula persatuan umat Islam terwujud. Militer bertambah kuat termasuk armada lautnya yang pada saat Khalifah Utsman bin Affan berkuasa, berjumlah 1700 kapal menjadi yang terkuat di lautan. Sebelum menjadi khalifah, kedudukan Mu’awiyah sebagai gubernur menguasai wilayah yang sangat luas meliputi wilayah Syam dan sekitarnya. Karena kekuasaannya yang luas itu pula maka Mu’awiyah mendapat dukungan dari seluruh umat muslim untuk melakukan ekspansi ke wilayah lainnya.

Dinasti Umayah dan Kejayaan Islam
Tak bisa dipungkiri bahwa kepemimpinan Mu’awiyah dalam masa kekhalifahannya membawa kejayaan bagi umat Islam. Sejak menjadi panglima di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Muawiyah selalu diberi kemenangan oleh Allah Swt di setiap peperangan yang dihadapinya. Setelah gejolak perpecahan yang terjadi dalam umat Islam bisa mereda, selanjutnya umat Islam merasakan kembali kedamaian dan keamanan di bawah pimpinan khalifah Mu’awiyah. Mu’awiyah kini fokus pada upaya perluasan wilayah dan penyebaran dakwah Islam ke daerah-daerah lain yang belum tersentuh cahaya Islam. Hanya saja wilayah Kufah, Bashrah, dan kota-kota di sekitarnya di daerah Irak yang masih bergejolak. Daerah ini memang masih dikuasai kaum Khawarij. Guna meredakan pemberontakan di wilayah ini, Mu’awiyah harus mengutus gubernur yang tegas. Karena itu, ia mengangkat Mughirah bin Syu’bah sebagai Gubernur Irak pada 41 H. Setelah Mughirah wafat, Mu’awiyah mengangkat Ziyad bin Abihi pada 49 H. Ziyad memiliki ketegasan yang serupa dengan Mughirah. Ia melaksanakan hukum dengan seadil-adilnya. Kaum pemberontak tak berani menunjukkan perlawananya kepada Ziyad.  
Wilayah Bizantium menjadi perhatian utama dalam penaklukkan wilayah di luar Arab selain Afrika. Bizantium merupakan imperium besar yang sulit ditaklukkan. Kekuasaan mereka membentang meliputi hampir seluruh Benua Eropa. Untuk menaklukkan Bizantium, Mu’awiyah mengerahkan armada lautnya. Selain itu invasi dilakukan melalui jalur darat (dari Afrika-Maghribi) dan jalur sungai (dari Irak). Pada masa kepemimpinannya, Mu’awiyah memang belum merasakan keberhasilannya menaklukkan Bizantium. Namun ia berhasil membangun fondasi armada pasukan yang kuat untuk menjadi bekal bagi pemimpin-pemimpin selanjutnya menguasai Bizantium. Pada sekitar 92 H, akhirnya Islam berhasil memasuki Andalusia (Spanyol). Keberhasilan penaklukkan Spanyol menjadi awal penguasaan Islam atas wilayah Eropa pada masa kekhalifahan selanjutnya.
Memasuki abad 98 – 99 H, penerus kepemimpinan Mu’awiyah (Dinasti Umayah) berhasil menguasai Konstantinopel untuk kedua kalinya. Dengan keberhasilan penaklukkan Konstantinopel, Dinasti Umayah mampu menguasai Eropa. Dinasti Umayah terus mengembangkan kekuasaannya di benua lain hingga ke India dan Cina. Penaklukkan Bangsa Tartar dan Mongol menjadi bukti bahwa Mu’awiyah dan dinasti yang dibangunnya mampu membangun kejayaan Islam di seluruh dunia. Dari dinasti ini lahir para ulama, fukaha, kaum cendikiawan dan tokoh-tokoh besar lainnya yang menyumbangkan segenap ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Hal ini tak lain karena Mu’awiyah membangun kerajaannya bersama-sama dengan para ulama sebagai penasihat dalam urusan kenegaraan maupun masalah peribadatan. Mereka diberi tempat yang layak sekaligus dimuliakan dengan kedudukannya.
Selama hampir satu abad, sejak 41 H hingga 132 H, Dinasti Umayah membangun fondasi keislaman yang kuat. Meski dengan berbagai ujian dan pemberontakan, dinasti ini terus bertahan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan Dinasti Umayah menjadi salah satu pembuka pemikiran orang-orang Eropa saat itu untuk mengembangkan dirinya. Doktrin gereja justru membuat mereka menganggap selama abad pertengahan sebagai abad kegelapan. Tatkala Islam datang dan memberi cahaya, orang-orang Eropa kemudian mengambil setiap ilmu pengetahuan dan teknologi itu untuk kepentingan mereka. Memasuki abad ke-13 M, mereka akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka terkungkung oleh doktrin keagamaan yang salah. Spanyol dan Portugis yang telah berhasil mempelajari teknik pelayaran dan navigasi dari kaum mslimin akhirnya melakukan ekspedisi ke berbagai negara.


Disarikan dari:
Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Saleh, 2014. (Diterjemahkan dari Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi a;-Tarikh al-Islami). Buku Pintar Sejarah Islam. Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini. Jakarta: Penerbit Zaman.          

No comments:

Post a Comment