MU’AWIYAH BIN ABI SUFYAN DAN KEJAYAAN ISLAM DINASTI UMAYAH
Oleh M. A. Iskandar
Mengenal Mu’awiyah Bin Abi Sufyan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah
salah seorang sahabat yang istimewa di sisi Nabi Saw. Beliau adalah salah satu
jurus tulis Rasulullah yang juga menulis Al-Quran. Masuk Islam di masa sebelum
Fathu Mekah, Mu’awiyah menjadi sosok yang dicintai Nabi Saw. Tidak hanya
sahabat Nabi, ia juga termasuk ahli fikih sebagaimana dalam hadis disebutkan
dari Ibnu Abi Malikah berkata, “Mu’awiyah mengerjakan shalat witir satu rakaat
sesudah Isya dan disampingnya terdapat seorang lelaki bekas budak Ibnu Abbas.
Lelaki itu lalu menceritakannya kepada Ibnu Abbas dan dijawab, ‘Biarkanlah ia
karena ia sahabat Rasulullah.’” Dalam riwayat lain disebutkan, “… karena ia
ahli fikih.” (H. R. Bukhari)
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Minhaj
al-Sunnah menyebutkan, “Dari sekian banyak raja umat muslim, tidak ada satu
raja pun sebaik Mu’awiyah.” Berdasarkan pendapat ini menunjukkan bahwa
Mu’awiyah termasuk pemimpin yang baik dan kepemimpinannya pun diakui sebagai
masa yang terbaik dibandingkan penguasa-penguasa muslim lainnya. Ibnu Taimiyah
juga menyatakan, “Periode kekuasaan dan rakyatnya adalah periode terbaik dari
periode-periode penguasa lainnya.” Nabi Saw pernah bersabda, “Sebaik-baik
pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan ia mencintai kalian, kalian
mendoakan kebaikannya dan ia mendoakan kebaikan kalian; dan seburuk-buruk
pemimpin adalah yang kalian benci dan ia membenci kalian, kalian melaknatnya
dan ia melaknat kalian.” (Hadis Shahih).
Keutamaan Mu’awiyah juga banyak
disebutkan dalam berbagai sumber. Sebagaimana hadis yang telah disebutkan di
atas, Ibnu Abas juga menegaskan dan mengakui kefakihan serta kealiman
Mu’awiyah. Ibnu Khaldun pun menyatakan, “Dinasti Umayah dan semua informasinya
hendaknya disambungkan dengan informasi-informasi kekhalifahan Khulaur Rasyidin.
Sebab yang pertama menyusul yang kedua dalam hal keutamaan, keadilan, dan shuhbah.”
Begitu pula di dalam hadis Umm haram diceritakan bahwa ada sekelompok umat
muslim yang akan berperang di lautan seperti tengah duduk atau berdiri di
singgasana. Dari Umm Haram binti Milham bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Pasukan
pertama dari umatku yang berperang di lautan telah ditentukan. Pasukan pertama
dari umatku yang menyerang kota Kaisar (Byzantium) telah diampuni
kesalahannya.” (H. R. Bukhari). Armada laut pertama yang melakukan ekspedisi ke
wilayah Byzantium tak lain adalah pasukan Mu’awiyah di bawah kekhalifahan
Utsman bin Affan.
Pengangkatan Mu’awiyah sebagai Khalifah
Banyak yang mengatakan terpilihnya
Mu’awiyah sebagai khalifah karena adanya tipu daya yang dilakukannya terhadap
Ali bin Abi Thalib. Isu ini dihembuskan kaum khawarij yang memang sejak awal
tak menginginkan adanya perdamaian di antara kaum muslimin. Mu’awiyah memang
menunda baiatnya kepada Ali karena ia menginginkan ditegakannya qisas
terhadap pembunuh Utsman bin Affan. Thalhah bin Ubaydillah dan Zubayr bin Awwam
termasuk yang menuntut hal itu pula. Sementara Ali bin Abi Thalib disibukkan dengan
pemberontakan oleh sekelompok orang yang telah menguasai Madinah. Ali bin Abi
Thalib sebenarnya bukan menolak qisas atas pembunuh Utsman namun masalah
pemberontakan menjadi prioritas utama yang hendak dituntaskan. Ia mengatakan
kepada Thalhah dan Zubayr, “Bagaimana mungkin aku bisa menindak orang-orang
yang menguasai kita, sementara kita tidak kuasa atas mereka? Masalah ini
(pemberontakan) sudah masuk perkara jahiliah. Jadi, tenanglah kalian hingga
semua orang tenang, hati berada pada tempatnya, dan hak-hak tertunaikan.”
Antara Ali dan Mu’awiyah sebenarnya
telah terjadi kesepakatan damai. Pada 39 H, Ali dan Mu,awiyah sepakat untuk
menghentikan peperangan dengan syarat Mu’awiyah menguasai wilayah Syam tanpa
campur tangan Amirul Mukminin. Kaum Khawarij tidak puas dengan kesepakatan ini.
Mereka senantiasa ingin merusak perdamaian itu dengan berbagai cara diantaranya
rencana pembunuhan kepada Mu’awiyah, Ali, dan Amr bin al-Ash. Dari ketiganya
hanya Ali bin Abi Thalib yang berhasil mereka bunuh.
Setelah syahidnya Ali, penduduk
Madinah membaiat Hasan bin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah pada Syawal abad
40 H. Kurang lebih setahun kemudian, Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada
Mu’awiyah demi menjaga persatuan umat. Dengan demikian fitnah bahwa penolakan
baiat Mu’awiyah kepada Ali bin Abi thalib karena menginginkan jabatan khalifah
terbantahkan dengan sendirinya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan ‘am
al-jama’ah (tahun persatuan). Hal ini sesuai pula dengan sabda Rasulullah
Saw mengenai Hasan, “Sungguh anakku ini adalah sayyid (penghulu). Mudah-mudahan
melalui dirinya Allah mendamaikan dua kelompok besar umat Islam yang
berselisih.” Dua kelompok Islam terbesar saat itu diketahui yaitu Mu’awiyah dan
Ali.
Mu’awiyah kemudian dibaiat oleh
seluruh kaum muslimin meskipun saat itu masih ada juga sahabat yang lebih
utama. Akan tetapi, para ulama sepakat bahwa orang mafdhul (mulia)
berhak menjadi pemimpin meskipun ada orang lain yang lebih afdhal (mulia
darinya) kecuali jika syarat kepemimpinan tidak terpenuhi. Tingkat kemuliaan
hanyalah salah satu pertimbangan untuk dipilih, bukan syarat utama kepemilikan
hak untuk dipilih. Kemuliaan Mu’awiyah telah disebutkan dari berbagai hadis dan
pendapat ulama yang telah disebutkan di atas.
Kepemimpinan Mu’awiyah terkenal
sangat tegas dan tanpa kompromi. Hal ini menjadikan masayarakat bisa hidup aman
dan tentram tanpa gangguan apapun. Bahkan seorang perempuan pun tidak merasa
takut tidur sendirian walaupun pintu rumahnya tak terkunci. Karena ketegasannya
pula persatuan umat Islam terwujud. Militer bertambah kuat termasuk armada
lautnya yang pada saat Khalifah Utsman bin Affan berkuasa, berjumlah 1700 kapal
menjadi yang terkuat di lautan. Sebelum menjadi khalifah, kedudukan Mu’awiyah
sebagai gubernur menguasai wilayah yang sangat luas meliputi wilayah Syam dan
sekitarnya. Karena kekuasaannya yang luas itu pula maka Mu’awiyah mendapat
dukungan dari seluruh umat muslim untuk melakukan ekspansi ke wilayah lainnya.
Dinasti Umayah dan Kejayaan Islam
Tak bisa dipungkiri bahwa
kepemimpinan Mu’awiyah dalam masa kekhalifahannya membawa kejayaan bagi umat
Islam. Sejak menjadi panglima di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman,
Muawiyah selalu diberi kemenangan oleh Allah Swt di setiap peperangan yang
dihadapinya. Setelah gejolak perpecahan yang terjadi dalam umat Islam bisa
mereda, selanjutnya umat Islam merasakan kembali kedamaian dan keamanan di
bawah pimpinan khalifah Mu’awiyah. Mu’awiyah kini fokus pada upaya perluasan
wilayah dan penyebaran dakwah Islam ke daerah-daerah lain yang belum tersentuh
cahaya Islam. Hanya saja wilayah Kufah, Bashrah, dan kota-kota di sekitarnya di
daerah Irak yang masih bergejolak. Daerah ini memang masih dikuasai kaum Khawarij.
Guna meredakan pemberontakan di wilayah ini, Mu’awiyah harus mengutus gubernur
yang tegas. Karena itu, ia mengangkat Mughirah bin Syu’bah sebagai Gubernur
Irak pada 41 H. Setelah Mughirah wafat, Mu’awiyah mengangkat Ziyad bin Abihi
pada 49 H. Ziyad memiliki ketegasan yang serupa dengan Mughirah. Ia melaksanakan
hukum dengan seadil-adilnya. Kaum pemberontak tak berani menunjukkan perlawananya
kepada Ziyad.
Wilayah Bizantium menjadi perhatian
utama dalam penaklukkan wilayah di luar Arab selain Afrika. Bizantium merupakan
imperium besar yang sulit ditaklukkan. Kekuasaan mereka membentang meliputi
hampir seluruh Benua Eropa. Untuk menaklukkan Bizantium, Mu’awiyah mengerahkan
armada lautnya. Selain itu invasi dilakukan melalui jalur darat (dari Afrika-Maghribi)
dan jalur sungai (dari Irak). Pada masa kepemimpinannya, Mu’awiyah memang belum
merasakan keberhasilannya menaklukkan Bizantium. Namun ia berhasil membangun
fondasi armada pasukan yang kuat untuk menjadi bekal bagi pemimpin-pemimpin
selanjutnya menguasai Bizantium. Pada sekitar 92 H, akhirnya Islam berhasil
memasuki Andalusia (Spanyol). Keberhasilan penaklukkan Spanyol menjadi awal
penguasaan Islam atas wilayah Eropa pada masa kekhalifahan selanjutnya.
Memasuki abad 98 – 99 H, penerus
kepemimpinan Mu’awiyah (Dinasti Umayah) berhasil menguasai Konstantinopel untuk
kedua kalinya. Dengan keberhasilan penaklukkan Konstantinopel, Dinasti Umayah
mampu menguasai Eropa. Dinasti Umayah terus mengembangkan kekuasaannya di benua
lain hingga ke India dan Cina. Penaklukkan Bangsa Tartar dan Mongol menjadi
bukti bahwa Mu’awiyah dan dinasti yang dibangunnya mampu membangun kejayaan
Islam di seluruh dunia. Dari dinasti ini lahir para ulama, fukaha, kaum cendikiawan
dan tokoh-tokoh besar lainnya yang menyumbangkan segenap ilmu pengetahuan dalam
berbagai bidang. Hal ini tak lain karena Mu’awiyah membangun kerajaannya
bersama-sama dengan para ulama sebagai penasihat dalam urusan kenegaraan maupun
masalah peribadatan. Mereka diberi tempat yang layak sekaligus dimuliakan
dengan kedudukannya.
Selama hampir satu abad, sejak 41 H
hingga 132 H, Dinasti Umayah membangun fondasi keislaman yang kuat. Meski dengan
berbagai ujian dan pemberontakan, dinasti ini terus bertahan. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan Dinasti Umayah menjadi salah satu
pembuka pemikiran orang-orang Eropa saat itu untuk mengembangkan dirinya. Doktrin
gereja justru membuat mereka menganggap selama abad pertengahan sebagai abad
kegelapan. Tatkala Islam datang dan memberi cahaya, orang-orang Eropa kemudian
mengambil setiap ilmu pengetahuan dan teknologi itu untuk kepentingan mereka. Memasuki
abad ke-13 M, mereka akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka terkungkung oleh
doktrin keagamaan yang salah. Spanyol dan Portugis yang telah berhasil
mempelajari teknik pelayaran dan navigasi dari kaum mslimin akhirnya melakukan
ekspedisi ke berbagai negara.
Disarikan dari:
Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Saleh, 2014. (Diterjemahkan
dari Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi a;-Tarikh al-Islami). Buku Pintar
Sejarah Islam. Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini.
Jakarta: Penerbit Zaman.

No comments:
Post a Comment